Anak kita bisa duduk diam berjam-jam menonton video pendek. Tapi baru lima menit diajak mengaji, ia sudah gelisah dan minta berhenti. Bukan anak kita yang tidak bisa fokus. Perhatiannya ada — hanya sedang direbut oleh yang lain.
Video pendek, game, dan aplikasi hiburan memang dirancang oleh tim ahli untuk merebut dan menahan perhatian selama mungkin — lewat konten yang berganti cepat, hadiah instan, dan variasi tanpa henti. Ini bukan kebetulan, ini industri yang sengaja dibangun seperti itu. Wajar kalau mengaji yang datar dan berulang jadi terasa kalah menarik di mata anak. Ini bukan salah anak, dan bukan sepenuhnya salah kita sebagai orang tua — ini memang medan yang sejak awal tidak seimbang.
Islam sudah mengajarkan cara menghadapinya jauh sebelum ada istilah "rebutan perhatian". Rasulullah ﷺ mendidik cucu-cucunya, Hasan dan Husain, tidak dengan langsung menuntut hafalan atau materi berat. Beliau lebih dulu dekat dengan mereka — bermain kuda-kudaan sambil merangkak di lantai, menggendong mereka di depan orang banyak tanpa rasa canggung, bahkan pernah memperpanjang sujud dalam shalat karena tidak ingin buru-buru menurunkan cucunya yang sedang menaiki punggung beliau (HR. Ahmad). Kedekatan dan kehangatan lebih dulu, baru kemudian ilmu dan didikan mengikuti dengan sendirinya.
Prinsip yang sama sebenarnya juga dipakai media digital modern: visualisasi, warna, dan interaktivitas bukanlah trik jahat. Semua itu cara alami membuat otak anak — apalagi di usia dini — mau terlibat dan bertahan lebih lama. Bedanya hanya pada tujuan: dipakai untuk merebut perhatian tanpa arah, atau dipakai untuk menuntun anak pelan-pelan menuju ilmu yang bermanfaat.
Karena itu, alat bantu visual dan interaktif bukan pengganti kedekatan langsung antara anak dan pembimbingnya — baik itu orang tua maupun guru mengaji. Ia hanya jembatan. Sama seperti gambar berwarna-warni di buku Iqra yang kita kenal sejak dulu, itu juga bentuk "visualisasi" untuk menarik minat anak — hanya medianya kini digital. EduSmart Muslim dirancang dengan prinsip ini: visual dan interaktivitas dipakai secukupnya untuk menarik minat awal, dengan tujuan akhir tetap mendekatkan anak pada pembelajaran langsung bersama orang tua atau guru.
Beberapa langkah kecil yang bisa kita coba mulai hari ini:
- Mulai dengan kehangatan, bukan materi. Ajak bercanda atau bercerita sebentar sebelum mulai mengaji, seperti yang Rasulullah ﷺ contohkan — biarkan anak merasa didekati, bukan langsung dibebani.
- Sesi singkat tapi konsisten. Lebih baik lima menit setiap hari dengan hati yang senang, daripada satu jam sesekali dengan paksaan.
- Cari lingkungan yang mendukung. Temukan teman sebaya atau kerabat yang juga bijak menggunakan gadget dan senang mengaji, lalu ajak anak belajar atau bermain bersama mereka. Anak lebih mudah meniru suasana daripada nasihat.
- Buat kesepakatan penggunaan gadget bersama anak, bukan sekadar larangan sepihak — misalnya waktu tertentu untuk hiburan dan waktu tertentu untuk belajar, disepakati bersama sehingga anak merasa dilibatkan.
- Rayakan kemajuan sekecil apa pun, tanpa membandingkan dengan anak lain atau video viral. Fokus pada progres anak sendiri, bukan standar orang lain.
Perhatian anak belum hilang. Ia hanya sedang menunggu direbut kembali — pelan-pelan, dengan cara yang membuatnya betah, bukan terpaksa.